Banner 468 x 60px

Radio Rodja 756AM
 

Kamis, 06 Maret 2014

TAWASSUL YANG TIDAK BENAR

0 comments
Alhamdulillâh, agama kita telah memberikan berbagai alternatif praktek tawassul yang benar. Namun amat disayangkan, tidak sedikit di antara kaum muslimin yang terpedaya oleh bisikan iblis, sehingga mereka menciptakan berbagai jenis tawassul ‘baru’ yang tidak memiliki landasan sahih (yang benar) dari al-Qur’ân maupun Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Tawassul yang syar’i saja belum mereka praktekkan semua, koq sudah mencari yang ndak syar’i ?! “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik ?”. [al-Baqarah/2:61]

Namun demikian, dalam menghukumi berbagai jenis tawassul ‘baru’ tadi kita tidak boleh gebyah uyah (pukul rata), semua divonis syirik, misalnya. Sebab ternyata ada di antara tawassul tersebut yang belum sampai derajat syirik, walaupun sudah dikategorikan bid’ah.

DUA JENIS TAWASSUL YANG TIDAK BENAR
Tawassul yang tidak syar’i bisa diklasifikasikan menjadi dua [1] :

1. Tawassul Syirik
Maksudnya, si pelaku tawassul berdoa memohon dan meminta kepada obyek tawassul, baik yang menjadi obyek yang dimintai itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para wali atau yang lainnya.

Walaupun pelakunya menamakan praktek ini dengan tawassul, namun sebenarnya adalah perbuatan syirik, karena ia telah mempersembahkan ibadah kepada selain Allâh. Ibadah yang dimaksud adalah doa.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Barang siapa berdoa kepada sesembahan selain Allâh, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Rabbnya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung. [al-Mu’minûn/23:117]

Bentuk tawassul tersebut di atas bertentangan dengan prinsip ikhlas dalam berdoa. Imam as-Sam’âny (w. 489 H) menjelaskan, “Ikhlas dalam berdoa artinya: seorang hamba tidak berdoa kepada selain Allâh”.[2] 

2. Tawassul Bid’ah
Maksudnya tawassul yang tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an atau hadits yang sahih, namun tidak mengandung unsur persembahan ibadah kepada selain Allâh Azza wa Jalla .

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanti :

مَنْ عَملَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak. [HR. Muslim]

Contoh tawassul jenis ini, antara lain: Tawassul dengan dzat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau orang-orang shalih, dengan hak dan jâh (kehormatan atau kedudukan) mereka dan yang semisal.

Imam Abu Hanifah (w. 150 H) mengingatkan, “Tidak diperkenankan bagi orang yang berdoa untuk mengucapkan, ‘Aku memohon pada-Mu dengan hak fulan, atau hak para nabi dan rasul-Mu…’ “.[3] 

CATATAN PENTING:
Manakala kita mengklasifikasikan tawassul yang tidak syari menjadi tawassul syirik dan tawassul bid’ah, bukan berarti kita akan melegalkan yang bid’ah. Bukan! Namun, kita ingin menjelaskan konsekwensi di dunia maupun akhirat yang akan diterima oleh masing-masing pelaku dua jenis tawassul tadi.

Tidaklah adil andaikan pelaku bid’ah non syirik divonis musyrik. Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah (w. 728 H) menjelaskan bahwa tidak ada satupun di antara para Ulama yang mengkafirkan orang yang bertawassul dengan dzat. Bahkan menurut beliau rahimahullah orang yang mengkafirkan pelaku bid’ah seperti ini layak untuk dihukum agar jera.[4] 

Walaupun perlu diingat pula bahwa tawassul bid’ah merupakan sarana yang bisa mengantarkan kepada tawassul syirik, sehingga tetap wajib untuk dihindari.[5] 

POTRET TAWASSUL TIDAK BENAR DI TANAH AIR
Keterangan di muka menjelaskan bahwa penyimpangan dalam tawassul tidak lepas dari penyimpangan bersifat syirik atau bersifat bid’ah. Sangat disayangkan, setiap bentuk penyimpangan ini ada dalam masyarakat Indonesia. Berikut sebagian contohnya :

Pertama: Contoh Tawassul Syirik. 
1. Doa Shalawat Tawassul yang tercantum dalam sebagian buku Tuntunan Ziarah Walisongo, yang berbunyi:

الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا شَيْخَ عَبْدَ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيْ مَحْبُوْبَ اللهِ أَنْتَ صَاحِبُ الإِجَازَةِ إِجَازَة مُحَمَّدٍ مُحَمَّدٌ إِجَازَةُ اللهِ أَنْتَ صَاحِبُ الْكَرَامَةِ كَرَامَةُ مُحَمَّدٍ مُحَمَّدٌ كَرَامَةُ الله أنْتَ صَاحِبُ الشَّفاعَةِ شَفَاعَةُ مُحَمَدٍ مُحَمَّدٌ شَفَاعَةُ الله يا شَيْخَ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيْ أَغِثْنِيْ أَغِثْنِيْ أَغِثْنِيْ سَرِيْعًا بِعِزَّةِ الله 

Semoga sholawat dan salam dilimpahkan kepada engkau wahai tuanku wahai Syeikh Abdulqadir Jailani, orang yang dicintai Allâh. Engkaulah pemilik ijazah, ijazah Muhammad dan Muhammad adalah ijazah Allâh. Engkaulah pemilik karamah, karamah Muhammad dan Muhammad adalah karamah Allâh. Engkaulah pemilik syafaat, syafaat Muhammad, Muhammad syafaat Allâh. Wahai Syeikh Abdulqadir al-Jaelani tolonglah aku tolonglah aku tolonglah aku segera, dengan kemulian Allâh”.[6] 

2. Sebagian bait-bait “Burdah” yang berisi istighatsah, permohonan perlindungan dan bantuan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Di antaranya:

يَا أَكْرَمُ الْخَلقِ مَا لِيْ مَنْ أَلوذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمَمِ
ما سَامَنِيْ الدَّهْرُ ضَيْمًا و اسْتَجَرْتُ بِهِ إلاَّ وَ نِلْتُ جِوَارًا مِنْهُ لَمْ يُضَمِ
وَمَنْ تَكُنْ بِرَسُوْلِ الله نُصْرَتُهُ إِنْ تَلْقَهُ الأُسْدُ فِيْ آجَامِهَا تَجِمُ

“Wahai makhluk termulia (maksudnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam), aku tidak memiliki tempat berlindung kecuali engkau saat bahaya melanda.

Setiap zaman menganiaya diriku, lalu aku berlindung kepadanya (Nabi Muhammad), akupun mendapatkan keselamatan dan perlindungan darinya, tidak teraniaya.

Barangsiapa yang menjadikan Rasûlullâh sebagai penolongnya, jika bertemu singa di kandang pun akan diam saja”.

Berbagai kalimat di atas yang digarisbawahi bermuatan doa dan permohonan kepada selain Allâh, dan ini adalah kesyirikan, walaupun dinamakan oleh para pelakunya sebagai tawassul.

Kedua: Contoh Tawassul Bid’ah
1. Sebuah papan di makam Mbah Sayyid Sulaiman di Jombang, Jawa Timur yang bertuliskan :

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِوَلِيِّكَ يا وَلِيَ اللهِ يَا امبَاهْ سيِّدَ سُلَيْمَان أَتَوَسَّلُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ لِقَضَاءِ حَاجَتِيْ هَذِهِ

Wahai Allâh, sungguh aku bertawassul kepada Mu dengan wali Mu. Wahai wali Allâh wahai mbah sayyid sulaiman aku bertawassul denganmu kepada Rabbku untuk menunaikan kebutuhanku ini.

2. Contoh tawassul yang benar menurut KH. Sirajuddin Abbas, padahal sebenarnya ini masuk dalam kategori tawasul bid’ah:
“Ya Allâh, Ya Tuhan yang Pengasih dan Penyayang, saya mohon keampunan dan keredhaan-Mu berkah beliau yang bermakam di sini (maksudnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani), karena beliau ini saya tahu seorang ulama besar yang Engkau kasihi. Berilah permohonan saya, Ya Allâh yang Rahman dan Rahim!”.[7] 
“Ya Allâh, berkat jah (tuah/wibawa) Nabi Besar Muhammad Saw[8] berilah permohonan saya”.[9] 

3. Tawassul yang ada dalam Shalawat Badar yang sangat masyhur di kalangan masyarakat Indonesia.

تَوَسَّلْنَا بِبِسْمِ اللهِ وَبِالْهَادِي رَسُوْلِ اللهِ
وَكُلِّ مُجَاهِدٍ لِلّهِ بِأَهْلِ الْبَدْرِ يَا اللهُ

Kami bertawassul dengan nama Allâh, dan dengan sang pembawa petunjuk; Rasûlullâh

Serta dengan setiap orang yang berjihad karena Allâh, dengan ahli Badar, wahai Allâh. [10] 

4. Lantunan “Ya Rabbi bil Mushthofa” yang tidak kalah terkenal, dan seringkali didendangnkan dalam berbagai acara,

"يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا واغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ"

Ya Rabbi, dengan al-Musthofa sukseskanlah tujuan kami. Serta ampunilah dosa kami yang telah lampau, wahai Yang luas karunia-Nya.

5. Doa dalam Diba’an yang berbunyi:

اللَّهُمَّ بِحُرْمَةِ هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَاسْتُرْنَا بِذَيْلِ حُرْمَتِكَ وارْزُقْنَا 

Ya Allâh, dengan kehormatan Nabi yang mulia ini, tutupilah kami dengan kehormatan-Mu dan berilah kami rizki.

Sebuah ungkapan yang tertulis besar di salah satu dinding pemakaman Troloyo di kota Mojokerto, Jawa timur:

"إِذَا تَضَايَقَتِ الْأُمُوْرُ فَتَوَسَّلُوْا بِأَهْلِ الْقُبُوْرِ" 

“Jika dililit kesulitan bertawassullah dengan ahli kubur”.

6. Awal kitab “Dalail al-Khoirot” yang berbunyi: 

إِلَهِيْ بِجَاهِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عِنْدَكَ وَ مَكَانَتِهِ لَدَيْكَ و مَحَبَتِكَ لَهُ و مَحَبَّتِهِ لَكَ و بالسِّرِّ الَّذِيْ بَيْنَكَ وَ بَيْنَهُ أَسْأَلُكَ أن تُصلِّيَ وَ تُسَلِّمَ عَلَيْهِ و عَلَى آلِهِ و صَحْبِهِ ....

“Tuhanku, dengan jah (wibawa) Nabi-Mu Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam di sisi-Mu dan kedudukannya di samping-Mu, kecintaan-Mu kepadanya dan kecintaannya pada-Mu serta dengan rahasia antara-Mu dengannya, Aku memohon kepadaMu untuk melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau , keluarganya dan para sahabatnya...

Demikianlah beberapa bentuk penyimpangan tawassul yang terjadi di negeri ini, sebagai bentuk peringatan bahwa ternyata di sana–sini masih banyak kekeliruan praktek beribadah di kalangan kaum muslimin. Waspadalah! 

(Disarikan dari tesis kami Mazhâhir al-Inhirâf fî Tauhîd al-‘Ibadah ladâ Ba’dh Muslimî Indonesia wa Mauqif al-Islâm minhâ hal. 381-391)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Baca: That-hîr al-Janân wa al-Arkân ‘an Daran asy-Syirk wa al-Kufrân (hal. 55 dst), Tahdzîr al-Muslimîn ‘an al-Ibtidâ’ wa al-Bida’ fî ad-Dîn (hal. 156-161) keduanya karya Ibn Hajar Alu Buthamy asy-Syafi’i, Muhâdharât fî al-‘Aqîdah wa ad-Da’wah karya Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan (I/32), at-Tawasshul ilâ Haqiqah at-Tawassul karya Syaikh Muhammad Nasib ar-Rifa’i (hal. 14) dan al-Masyrû’ wa al-Mamnû’ min at-Tawassul karya Dr. Abdussalam bin Barjas (hal. 31-48).
[2]. Tafsîr as-Sam’âny (V/30).
[3]. Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah karya Ibn Abi al-‘Izz (I/362), It-hâf as-Sâdah al-Muttaqîn karya az-Zabidy (II/285) dan Syarh al-Fiqh al-Akbar karya Ali al-Qary (hal. 198).
[4]. Lihat: Majmû’ Fatâwâ Syaikh al-Islâm (I/106).
[5]. Baca: Juhûd ‘Ulamâ al-Hanafiyyah karya Syams al-Afghany (III/1485).
[6]. Tuntunan Ziarah Walisongo karya Abdul Muhaimin (hal. 142-143).
[7]. I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah karya KH. Siradjuddin Abbas (hal. 326).
[8]. Demikian dalam buku aslinya tertulis “Saw”. Amat disayangkan memang, banyak orang mengklaim dirinya cinta Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun untuk bershalawat kepada beliau saja, enggan untuk menuliskan redaksi shalawat secara lengkap. Mereka mencukupkan diri dengan singkatan “saw” saja! Jauh panggang dari apinya,. Jauh klaim dari pembuktiannya.
[9]. I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah karya KH. Siradjuddin Abbas (hal. 326).
[10]. Tuntunan Ziarah Walisongo (hal. 131).
_____________________________
oleh : Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA
via : almanhaj.or.id

0 comments:

Posting Komentar